Dinamika permainan sepak bola memang menjadi suatu keniscayaan, baik dari sisi taktikal, aturan dan juga teknologi yang ada di dalamnya. Hal itu juga yang membuat unsur pelengkap jersey juga merasakan hal yang sama.

Dahulu, pada saat permainan sepak bola mulai muncul untuk kali pertama, seragam tim bukanlah sesuatu yang penting. Asalkan ada bola dan orang yang mencukupi di dalam sepasang tim yang berbeda, maka olahraga ini sudah pasti terlaksana.

Namun seiring berjalannya waktu, seragam tempur menjadi semakin penting kehadirannya dalam kancah sepak bola. Pasalnya, kostum sepak bola berfungsi sebagai alat untuk membedakan warna kedua tim yang berlaga. Warna kostum yang berbeda membuat para pemain bisa dengan mudah mengidentifikasi mana rekan setimnya dan mana lawannya. Pun begitu dengan para penonton yang menyaksikan partai tersebut, mereka bisa dengan mudah mengetahui mana tim pujaannya dan mana yang bukan.

Tapi evolusi jersey sepak bola tidak semata-mata berkaitan dengan warna kostumnya saja. Dalam perkembangannya, banyak unsur penting lain yang ikut berperan besar dalam perubahan seragam tempur para bintang lapangan hijau. Mulai dari bahan, desain, hingga apparel dan sponsor yang tercantum disana.

Layaknya sebuah klub di Eropa yang mempunyai berbagai jenis dan bentuk jersey sebagai ciri khas, sama halnya dengan Barito Putera. Tim kebanggaan urang banua ini juga mempunyai jerseytersendiri. Dalam setiap event atau
kompetensi yang diikuti, Barito Putera juga melakukan perubahan setiap tahunnya.

Pada awal berdirinya tahun 1988 warna resmi jersey Barito Putera adalah kuning strip hitam, celana hitam, kaos kaki kuning. Kemudian kostum pendukung baju kaos putih, celana biru, kaos kaki biru. Sekilas, warna jersey pertama Barito ini mirip dengan kostum Timnas Malaysia saat ini. Kendati begitu, ada makna tersendiri dibalik jersey tersebut.

“Kostum pertama Barito itu Kuning strip hitam. Saya kurang fah.dengan adanya warna hitam disitu. Tali yang jelas, waktu itu pendiri Alm. HA Sulaiman HB menginginkan warna kuning. Karna kuning adalah warna keramat bagi Kalimantan Selatan,” kata Sekertaris pertama Barito Putera, Syamsu Udaya.

Penggunaan warna kuning sebagai warna dasar Barito Putera bertahan hingga musim 1994. Ditahun 1995 atau tahun pertama Liga Indonesia, Barito Putera memilih warna putih sebagai warna dasar jersey. Warna putih teraebut dibalut dengan warna merah dengan menampilkan tiga garis di bagian lengan hingga ke dada. Penggunaan tiga garia tersebut terbilang wajar, pasalnya kala itu Barito bekerjasama dengan Apparel asal Jerman, Adidas. Penggunaan warna putih dengan kombinasi merah bertahan hingga beberapa tahun.

“Setelah kuning, kemudian putih, lalu berganti lagi ke warna merah. Kalau putih saya kurang ingat alasannya kenapa. Tapi kalau merah, itu seperti ada tuahnya. Dulu setiap kita memakai kostum.warna merah, Barito selalu menang,” tambah Syamsu Udaya.

Di era Liga bank Mandiri, perubahan warna kembali menghiasi seragam utama Laskar Antasari. Kali ini, warna biru gelap yang dipilih sebagai warna dasar. Ornamen warna merah yang memberikan tuah bagi Barito tetap dipertahankan. Hanya saja, warna merah sebatas di lengan. Bukan hanya itu, Barito juga tidak bekerjasama dengan Apparel Adidas. Sebagai ganti, Laskar Antasari menggaet produsen olahraga ternama asal Amerika, Nike.

Penggunaan warna biru tidak berlangsung lama. Saat Barito terdegradasi di Divisi dua hingga promosi ke divisi utama, warna dasar Barito kembali ke kuning. Marwah warna kuning sebagai warna sakral masyarakat Banjar dipeecaya akan mengembalikan Barito Putera ke kasta teetinggi Liga Indonesia.

Kendati menggunakan warna dasar kuning, warna biru tetap dipertahankan. Hanya saja, warna biru lebih kepada warna pendukung. Secara bergantian, warna biru menghiasi pundak, leher, hingga lengan jersey pemain.

Di era liga Super Indonesia hingga saat ini, penggunaan warna kuning tetap dipertahankan. Meski beberapa kali berganti warna pedukung. Jika sebelumnya warna pendukung adalah biru, tahun 2013 warna biru berganti menjadi hitam. Warna hitam menghiasi sebagian lengan, leher, dan bagian samping jersey.

Pada tahun 2016 atau tepatnya pada gelaran TSC, Barito putera tetap menggunakan warna kuning dengan kombinasi warna biru di Bagian lengan. Setahun berselang, di era Liga 1, warna biru tidak terlihat lagi. Sebagai ganti, warna hitam yang menemani warna biru. Warna hitam menghiasi dada pemain membentuk huruf V.

Tahun ini, warna hitam kembali dihilangkan. Sebagai gantinya, warna biru yang menemani warna dasar kuning. Ornamen warna biru terdapat di bagian leher dan lengan pemain.

“Mayoritas kita menggunakan warna kuning, sebagai kustum utama. Tapi kita pernah menggunakan beberapa warna yang kurang familiar sebagai kostum kedua, medio awal 2000. Mungkin semacam mengikuti tren. Dulu kita pernah menggunakan kostum tandang warna Ungu, karena waktu itu lagi booming Fiorentina denga penyerangnya Batistuta. Lalu pernah juga kita menggunakan warna hijau. Saya kurang ingat warna hijau itu alasannya kenapa,” kata H Agus.

Share Berita
error: Content is protected !!
Visit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram