KILAS BALIK JULI 1995: EKSKLUSIF FRANS SINATRA (PART 1)

TEPAT 25 tahun lalu, Barito Putera mengukir sejarah lolos ke semifinal Liga Indonesia I 1994/95. Banyak kisah menyentuh hati yang dirasakan oleh para pemain Laskar Antasari pada masa itu, termasuk oleh sang kapten, Frans Sinatra Huwae.

Bulan Juli adalah bulan yang berat bagi Barito, jadwal pertandingan begitu padat dan harus mengejar poin untuk memastikan lolos ke babak delapan besar. Bahkan, laga tunda kontra PSM Makassar yang digelar di akhir putaran kedua grup Timur, menjadi penentu apakah Frans dkk bisa lolos atau tidak.

“Kebetulan laga lawan PSM ditunda dan dipindah ke Gresik biar netral, segala cara kita lakukan, namanya juga mau lolos. Meski PSM ciri khasnya main keras, untungnya waktu itu anak-anak sabar, bertahan, tidak terpancing emosi, itu yang membawa kita lolos ke Jakarta waktu itu,” kisah Frans.

Barito Putera sukses menaklukkan PSM Makassar dengan skor 2-1, sehingga berhak melaju ke babak delapan besar Ligina I 1994/95 di Senayan, DKI Jakarta. Tim pun langsung bertolak ke Ibukota, karena tidak banyak waktu untuk persiapan ke babak selanjutnya.

“Lucunya setelah kita lolos delapan besar dan sampai Jakarta, semua pemain ke Blok M, kita cukur rambut semuanya, sebagai tanda syukur lah,” kenang Frans lagi.

Kemudian, tiba saatnya penggawa Laskar Antasari beristirahat. Namun, fasilitas yang disediakan tidak sama seperti tim lainnya yang juga lolos ke babak perempat final. Alhasil, founder klub, Haji Abdussamad Sulaiman (alm) bertindak cepat untuk memberikan fasilitas terbaik kepada anak asuhnya.

“Berhubung kita dianggap tim underdog, yang lain hotelnya dikasih semua, kita waktu itu ditaruh di hotel paling uyuh lah. Setelah Abah Haji tahu kita ditaruh di hotel itu, beliau langsung tarik, kalian semua besok langsung masuk ke Hotel Indonesia. Saking luar biasanya, semua tim kaget dengar kita menginap di HI. Jangankan tim lain, Ketua Umum PSSI waktu itu, Azwar Anas juga terkejut, langsung disambut kita di HI, padahal kita peserta terakhir yang lolos.”

Meski tim underdog dan tidak diperkuat oleh pemain asing, namun nyatanya Barito Putera berhasil membuktikan kualitas di babak delapan besar. Bahkan, Frans dkk sukses merebut poin penuh dari Pelita Jaya yang notabene merupakan tim bertabur bintang.

“Kita lolos ke semifinal mengalahkan Pelita Jaya, pemain bintang semuanya itu. Sebuah keberuntungan ya, Barito tim yang tidak diperhitungkan, pemain asing juga nggak ada, akhirnya kita tampil nggak ada beban. Kehadiran Haji Rahmadi dan Abah Haji waktu itu yang membuat kita tuh kasasahan, rasa tidak ingin kalah, semangatnya terasa banget di situ,” kenangnya.

Alhasil, Barito Putera dipastikan lolos ke babak semifinal dan bersua Persib Bandung pada 28 Juli 1995. Banyak kisah menarik lainnya dari Frans Sinatra saat menjajal laga semifinal Ligina 1 1994/95, mulai dari telur di gawang Abdillah hingga gol yang dianulir, sampai pada sambutan Barito Mania yang membuat merah Bandara Syamsudin Noor.

Reporter : Ucok
Foto : Dokumen
Editor : Ardasa

Share Berita
error: Content is protected !!
Visit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram