STADION 17 MEI Banjarmasin adalah kebanggan Kalimantan Selatan. Stadion yang sarat akan nilai historis ini didirikan pada tanggal 17 Mei 1974, dan diresmikan langsung oleh Gubernur Kalimantan Selatan Soebardjo. Nama 17 Mei dipilih karena berdasar dari sejarah perjuangan rakyat Kalsel yang berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.

Stadion ini awalnya merupakan lapangan gabuk (limbah sisa potongan kayu) dan tanah bekas sungai yang mengering. Pembangunan stadion ini juga diiringi dengan adanya lintasan lari atletik, arena lompat jauh, dan tribun penonton yang terbuat dari kayu.  Jika dikalkulasikan stadion ini sudah beberapa kali mengalami renovasi. Pertama kali tahun 1984, ditandai dengan dibuatkan tembok pengaman di sekeliling stadion.

Selain itu, kapasitas tribun di bagian barat juga ditambah sehingga muat menampung 2.000 tempat duduk.  Stadion ini kembali mengalami pembenahan pada tahun 1995. Kali ini rumput lapangan mengalami perbaikan. Selain itu, juga dilakukan perbaikan instalasi listrik, air, toilet, dan pengadaan pompa penyiram rumput untuk menjaga kualitas lapangan.

Renovasi kedua pada tahun 1995 tersebut tidak lepas dari dukungan PT Barito Timber Group (perusahaan kayu yang kala itu sedang berjaya). Bantuan tersebut muncul sebagai hadiah atas prestasi fenomenal yang diraih Barito kala berhasil menembus semifinal Liga Dunhill 1.

Stadion ini kembali mengalami perombakan pada tahun 2007. Ditandai dengan ditambahnya kapasitas tempat duduk menjadi 15.000 kursi penonton. Perombakan ini dilakukan dalam rangka menyambut Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) yang diselenggarakan di Banjarmasin dan dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kala itu.

Berdasarkan informasi yang  dihimpun, stadion ini kembali mengalami renovasi pada tahun 2010. Sayangnya, tidak banyak info yang kami terima terkait apa saja perbaikan yang dilakukan kala itu. Hingga akhirnya pada tahun 2013, stadion ini kembali dirombak. Kapasitas ditambah menjadi 30.000 tempat duduk.

Perombakan ini mengiringi keberhasilan Barito Putera yang promosi ke kasta tertinggi Liga Indonesia. Untuk memenuhi standar yang ditetapkan PSSI, stadion pun dirombak, dan Barito harus mengungsi selama satu musim ke Stadion Demang Lehman, Martapura.

Kini, stadion yang menjadi simbol sepakbola masyarakat Kalsel itu dinilai sudah saatnya untuk direnovasi kembali. Banyaknya keluhan dari masyarakat mendesak kepada pemerintah dan pihak pengelola agar melakukan perbaikan di beberapa titik. Masalah paling parah yang disuarakan masyarakat adalah terkait pagar pembatas yang mengganggu penonton menyaksikan pertandingan. Maklum saja, kondisi lapangan di stadion ini posisinya lebih tinggi dibanding tempat duduk penonton terdepan.

Pemerintah dan pihak pengelola sendiri tidak tinggal diam. Wacana untuk merenovasi sebenarnya sudah ada sejak setahun belakangan. Namun prosedur yang berbelit-belit membuat rencana tersebut mandek, dan menimbulkan tanda tanya apakah stadion ini akan direnovasi atau tidak.

Awalnya, pemerintah berdalih bahwa stadion tersebut berada di bawah KONI Kalsel, yang dijalankan oleh Badan Pengelola Stadion 17 Mei dibawah naungan KONI. Agar anggaran renovasi bisa disalurkan, maka pengelolaan stadion tersebut harus dikembalikan KONI kepada Pemprov Kalsel.

Setelah menjalani proses panjang, KONI Kalsel akhirnya mengembalikan pengelolaan Stadion 17 Mei kepada Pemprov Kalsel. Pengembalian ini tertuang pada surat Nomor 439.X/KONI/KS/2018 perihal Pengembalian Aset Tanah dan Bangunan, yang ditandatangani Ketua Umum KONI Kalsel Bambang Heri Purnama dan Sekretaris Umum KONI Kalsel Enly Hadiyanor, diterima Dispora Kalsel pada Selasa (23/10) lalu. Setelah menerima surat tersebut, pemerintah kemudian menindaklanjuti dengan perencanaan renovasi bangunan, yang diharapkan bisa terlaksana pada tahun 2019 nanti.

“Kita sudah terima surat penyerahan dari KONI beberapa waktu lalu. Selanjutnya akan ada proses maraton yang dilakukan terkait hal ini, terutama dalam hal anggaran. Saya dipanggil gubernur agar sesegera mungkin supaya bisa menganggarkan karena ini mendadak juga. Mudah-mudahan bisa kita benahi,” kata ketua Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalsel, Zackly Aswan.

Kendati Zackly tidak menyebut nominal, namun informasi yang kami terima menyebut bahwa Pemprov telah menganggarkan dana sebesar Rp 13 miliar untuk secepatnya dapat merealisasi perbaikan Stadion 17 Mei tersebut. Dengan anggaran tersebut tentunya pemprov mesti menentukan skala prioritas, mana yang akan dirampungkan terlebih dahulu.

Sementara itu Ketua Komisi III DPRD Kalsel bidang pembangunan, Supian HK berjanji pihaknya akan segera melakukan rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) bersama pihak terkait. Supian mengatakan, beberapa hal yang  menjadi skala prioritas adalah tribun penonton, fasilitas musholla, air bersih, dan tata kelola parkir, serta pintu masuk.

“Kita akan segera adakan rapat. Tentunya lebih cepat lebih baik. Sebelumnya kita tak sempat menganggarkan di ABT perubahan karena masih status quo. Tapi karena saat ini sudah jelas, tentu bisa dimasukan di APBD murni yang hanya sisa waktu 3 bulan,” katanya.

Secara terpisah, Sekretaris Badan Pengelola Stadion 17 Mei Syubhan Annoor mengaku pesimis renovasi bisa dilakukan tahun ini. Mengingat mepetnya waktu yang tersedia untuk menganggarkan dana renovasi tersebut, dirinya memprediksi renovasi akan terjadi di tahun depan.  “Semoga bisa secepatnya. Tapi saya rasa kemungkinan besar di bulan Agustus proses renovasi bisa dimulai,” kata dosen FKIP Unlam tersebut. (*)

error: Content is protected !!
Visit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram